Sekuntum Bunga

13 11 2009

Seorang wanita pernah berkata kepadaku, “Aku ingin menjadi sekuntum bunga yang indah dan terjaga, untuk seekor lebah yang akan memberikan kehidupan baru untukku”. Subhanallah, indah sekali ucapannya.

Bunga

Wanita seringkali dianalogikan sebagai sekuntum bunga. Bunga yang indah bagaikan wanita yang memiliki kecantikan yang memikat siapa saja yang memandangnya. Bunga yang mewangi bagaikan wanita yang memiliki kharisma yang mempesona siapa saja yang mengenalnya.

Wanita itu ibarat sekuntum bunga, yang suatu saat akan layu. Cantik indahnya wanita hanya sementara dalam pandangan mata. Saat wanita telah berusia tua, maka dapatlah dipastikan bahwa kecantikan lahiriahnya akan hilang, memudar karena diluruh waktu.

Sedangkan yang kekal menjadi pujaan manusia hanyalah wanita yang mulia akhlaqnya. Karena akhlaq bagaikan bunga diri yang tak akan layu dimakan usia, tak pudar dimakan zaman. Ternyata memang akhlaqlah yang memberikan seorang wanita kecantikan yang abadi. Kecantikan yang terpancar dari cahaya hati orang-orang pilihan-Nya. Berikut ini adalah dua buah cerita yang akan memberi kita pemahaman yang tepat tentang makna kacantikan wanita :

Dikisahkan bahwa ada seorang wanita muda di sebuah desa di sebuah pelosok daerah. Wanita muda tersebut memiliki kecantikan dan keanggunan bagaikan sekuntum bunga, sehingga banyak suara yang sepakat bahwa dialah bunga desa di desa tersebut.

Dirinya layaknya permata terindah yang diinginkan oleh setiap makhluk berjakun, entah muda maupun tua di desa tersebut. Kehadirannya menjadi pusat perhatian dan kepergiannya menjadi kekeluan yang terdesak dalam dada para pria-pria, seolah mereka hendak berteriak, “Jangan dulu pergi, di sini kering tanpa adanya dirimu”.

Apapun yang dilakukannya selalu indah terlihat, sehingga entah sadar atau tidak, entah sengaja atau tidak olehnya. Bahkan jika dibandingkan dengan gadis manapun, tetap saja mereka para pria itu mengakui kecantikan dan keanggunan gadis tersebut sebagai yang nomor satu. Dan selama mereka terus bergelut dengan khayal yang aneh-aneh, gadis itu tetap tak bergeming dan tak tergoda oleh setiap tawaran, sebab hatinya memang belum tersentuh. Gadis itu belum bertemu dengan sosok yang mampu menggetarkan hatinya, sehingga akhirnya hadiah senyumlah yang bisa dinikmati makhluk-makhluk berjakun di desa itu.

Sampai suatu hari, bunga desa ini pun bertemu dengan seorang pria dianggapnya istimewa. Yang dengan hanya melihatnya saja, telah mampu menggetarkan dinding hatinya, mampu menggetarkan sukmanya yang masih muda itu. Sehingga pria itu banyak disanjung oleh teman-teman sepergaulannya, “kamu sekarang menjadi laki-laki yang paling beruntung di dunia, teman!”. Namun pria itu hanya menyunggingkan senyuman bodoh.

Selang berapa lama waktu berjalan, kabarpun datang. Bahwa setan telah ikut campur dalam jalinan kasih itu. Sehingga sesuatu yang seharusnya terjadi pada malam pertama setelah hubungan dinyatakan sah terikat, telah terjadi. Dan telah menghasilkan seorang makhluk mungil calon penghuni dunia dari hubungan yang tidak sah, di balik dinding rahim si gadis. Sehingga kecewalah makhluk-makhluk berjakun lainnya di desa itu, karena bunga yang dulunya mekar dan indah. Gadis yang menjadi pujaan setiap hati di antara mereka itu telah layu tersiram air kehinaan dan kebodohan.

Menyesal lah diri mereka berdua dan juga orang-orang yang pernah mengenal mereka, sebab mereka telah terjatuh dalam kebebasan yang tanpa batas. Kebebasan yang akhirnya memenjarakan mereka dalam kehinaan perilaku yang buruk.

Menangislah wanita itu dalam tidur dan sadarnya. Menjeritlah hatinya dalam diam dan sembabnya mata. Batinnya yang liar meneropong laku salah dirinya yang telah terjadi, sehingga dengan sedikit berbisik dengan linangan air mata penuh kegalauan dalam do’a malam harinya ia berkata, “Ya Tuhan, Aku menyesal !”.

Pada saat yang sama, ada seorang wanita alim yang cantik jelita di desa seberang, yang juga sedang terajut sejarah hidupnya oleh orang sekitar. Dia berkerudung dalam pakaiannya dan berakhlak dalam setiap tindakannya. Tidak diliarkan pandang dan bicaranya layaknya wanita kebanyakan. Dia bagaikan sekuntum bunga yang indah dan juga terpelihara dengan baik.

Kebahagiaan begitu terpancar dari perilakunya yang tak bebas itu. Heran memang, tapi begitulah adanya dia. Sehingga banyak sudah para bujang, baik yang segar maupun yang lapuk hendak meminang dirinya. Menawarkan yang tak tertawarkan, dan hendak menyerahkan segala segala yang diempunya hanya demi mendapatkannya. Dan selama itu pula, belum ada satupun yang mampu menaklukkan ayah gadis jelita ini.

Tidak ada satupun pria yang mampu mengeluarkannya dari pintu rumahnya, tanpa surat nikah. Begitulah prinsip sang ayah, mendukung karena tahu keyakinan sang anak.

Hingga suatu saat, datanglah seorang bujang sederhana namun tampak bercahaya dari wajahnya. Terpancar betul keagungan akhlak dalam setiap bicara dan lakunya. Dengan kata-katanya ia yang dapat memenuhi rongga ketidakpercayaan menjadi penuh kepercayaan, sebab terasa betul kejujurannya. Bujang sederhana itu datang meminang gadis jelita yang tampak cantik batinnya ini. Dan hendak mengajaknya menjadi ratu dalam kerajaan hidupnya.

Dan bagai gayung bersambut, bagaikan seorang anak yang bertemu ibunya, bagaikan mutiara yang bertemu mahkotanya, tampak elok dan serasi betul kedua pasangan ini. Sehingga keindahan keluarga mereka, menjadi kebahagiaan dan ketentraman sebab kekayaan mereka adalah kekayaan hati. Indahnya.

 





Wanita

13 11 2009

Wanita. Sebuah kata yang memiliki makna yang kompleks. Bayangkan saja, hanya dengan mendengar satu kata ini maka sosok yang terbayang di benak setiap orang akan beragam. Ada yang menginterpretasikan kata ‘wanita’ dengan sosok perempuan anggun berhijab nan santun, ada juga yang menginterpretasikannya dengan sosok perempuan yang berpakaian berani nan sexy memikat. Kata ‘wanita’ dapat diinterpretasikan dengan sosok wanita karir yang menjunjung paham feminisme, namun ada pula yang menginterpretasikannya dengan sosok ibu rumah tangga yang sabar dan setia mendidik anak-anaknya. Sungguh kompleks tipe-tipe wanita di dunia ini sampai-sampai sulit untuk menjelaskannya satu per satu.

muslimah

Wanita. Sosok manusia yang amat istimewa. Wanita. Siapa saja yang melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kepala, pasti akan berkata bahwa wanita memang salah satu keindahan dunia yang teragung, ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun demikian, yang menjadi pertanyaan berikutnya : apakah boleh keindahan wanita diperlihatkan ? Bukankah keindahan wanita adalah anugerah Tuhan, jadi mengapa harus ditutup-tutupi ?

Wanita dan kecantikan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Wanita adalah salah satu ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling cantik, sebagaimana firman Allah SWT, “…Yang demikian itu ialah Tuhan yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Dialah yang mempercantik segala yang Dia ciptakan.”(Q.S. Al-Sajdah: 6-7)

Sehingga banyak fitnah yang disebabkan oleh kecantikan wanita. Dari Usamah bin Zaid, ia berkata “Nabi bersabda : Tidak ada fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada (fitnah) wanita.” . Bahkan salah seorang pemimpin dari negeri Imperialis mengatakan: “Minuman keras dan kecantikan wanita lebih mampu menghancurkan umat Muhammad daripada seribu senjata. Oleh karena itu, buatlah mereka tenggelam dalam kecintaan kepada harta dan syahwat.

Dalam protokol Zionisme disebutkan : “Kita harus menempuh segala cara untuk menghancurkan akhlaq mereka di mana saja agar mudah bagi kita untuk menguasai mereka. Setiap sarana harus kita balut dengan nuansa seksual, agar dalam pandangan mereka tidak tersisa lagi sesuatu yang suci, sehingga keinginan mereka hanyalah menyalurkan hasrat seksualnya. Pada saat itulah akhlaq mereka akan hancur.

Salah seorang pembesar missionaries juga pernah berkata : “Kita harus berusaha menghancurkan wanita muslimah, kapan saja kita berhadapan dengan mereka. Hiasilah perilaku mereka dengan segala sesuatu yang haram. Saat itulah kita bisa menghancurkan agama mereka.”

Para iblis dari musuh-musuh Islam telah mengetahui sepak terjang dan peran penting wanita muslimah dalam membangun masyarakat muslim sejak pembai’atan mereka kepada Nabi Muhammad SAW sampai saat ini. Karena peran serta wanita muslimah inilah muncul ulam dan pejuang sejati, seperti ‘Umar bin Khaththab, Khalid bin Walid, Shalahuddin Al-Ayyubi, ‘Aisyah bin Abu Bakar, Asma’, Ummu Imarah, Khansa’ dan lain-lain. Para musuh Islam rupanta telah menemukan jalan terbaik untuk menghancurkan umat Islam, yaitu dengan menghancurkan aqidah wanita muslimah. Untuk itu, mereka menetapkan strategi yang keji dan hina untuk mengeluarkan kaum wanita muslimah dari fungsi dasarnya dan mencabut semangat bai’at dari tangan mereka. Cara ini kemudian mereka balut dengan berbagai istilah yang menipu (kamuflase), seperti kebebasan, emansipasi, modernisasi, sekularisasi, perubahan, pemberontakan untuk melepaskan belenggu, pembaharuan, dan berbagai semboyan dan slogan lainnya yang sesat dan juga menyesatkan.

Wanita dan fitrah manusia akan cita rasa kecantikan adalah dua hal yang sulit dipisahkan satu sama lain.

Imam al-Ghazali –rahimahullah- berkata, “Watak yang lurus dapat menikmati kecantikan bunga-bunga yang sedang mekar dan kupu-kupu yang berwarna-warni, indah rupa dan bentuknya. Tidak ada yang mengingkari bahwa kecantikan itu dicintai secara naluriah.”

Imam Ibn Taymiyyah –rahimahullah- berkata, “… Sebab manusia itu dikodratkan untuk mencintai kecantikan dan membenci keburukan. Maka kecantikan itu dicintai dan keburukan dibenci.” Semantara murid Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim al-Jauziyyah menegaskan pernyataan gurunya ketika mengawali pembicaraannnya mengenai kecantikan lahiriah. Katanya, “… dan hati dikodratkan untuk mencintai kecantikan dan menganggapnya baik.”

Semua pendapat para imam di atas menegaskan bahwa cita rasa kecantikan adalah fitrah manusia dan kecintaannya terhadap kecantikan tersebut merupakan watak dasarnya. Prof. Muhammad Qutub ketika berbicara tentang nilai-nilai tertinggi berpendapat bahwa cita rasa kecantikan adalah sesuatu yang fitri (alamiah).

Risalah Islam datang untuk mendidik cita rasa kecantikan, dan menegaskan bahwa menikmati kecantikan dan berupaya memperolehnya adalah sesuatu yang wajar, tanda manusia yang normal. Yaitu manusia yang memiliki cita rasa yang dalam, manusia yang memperhatikan keajaiban ciptaan dan keagungan Sang Maha Pencipta, serta besar nikmat-Nya.

Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pula yang mengharamkan) rizki yang baik ?’ Katakanlah, ‘Semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat.’ (Q.S. Al-A’raf : 32)

Oleh karena itu, wahai wanita-wanita muslimah di negeri Indonesia tercinta…

Andai wajahmu ayu menawan dan akhlaqmu sangat mempesona…

Maka sudah sewajarnya Anda sebagai seorang wanita selalu memelihara kesucian diri terhadap segala hal yang diharamkan Allah SWT, tidak tunduk dengan hawa nafsumu sendiri, dan selalu mempercantik diri dengan pakaian takwa, sebagaimana firman-Nya : Hai anak Adam (manusia), sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itu yang lebih baik.” (Q.S.Al-A’raf : 26)

Maka kecantikan seperti ini yang dicintai Allah. Dari aspek ini, wanita si pemilik rupa cantik lebih baik dibandingkan dengan wanita lain yang tidak dikaruniai kecantikan sepertinya, selama kecantikan tersebut tidak dipergunakan untuk maksiat. Jika seorang wanita cantik rupanya maka ketakwaanlah yang akan menambah kecantikannya. Dan jika seorang wanita tidak berwajah cantik maka kemuliaannya yang akan memberikan cahaya dan kecantikan baginya.

Sementara mereka yang banyak berbuat dosa, wajah mereka akan tertutup oleh ‘hitamnya’ kemaksiatan yang mereka perbuat, sehingga kecantikannya pun seolah tak terlihat. Ibn Abbas pernah berkata, Sesungguhnya kebajikan itu memiliki cahaya di dalam hati, sinar di wajah, kekuatan di badan, keberkahan dalam rizki dan kebencian di hati manusia. Dan sebaliknya sesungguhnya keburukan itu memiliki kegelapan di hati, keburaman di wajah, kelemahan di badan, mengurangi rizki dan menimbulkan kebencian di hati manusia.”









Follow

Get every new post delivered to your Inbox.