Seorang wanita pernah berkata kepadaku, “Aku ingin menjadi sekuntum bunga yang indah dan terjaga, untuk seekor lebah yang akan memberikan kehidupan baru untukku”. Subhanallah, indah sekali ucapannya.

Wanita seringkali dianalogikan sebagai sekuntum bunga. Bunga yang indah bagaikan wanita yang memiliki kecantikan yang memikat siapa saja yang memandangnya. Bunga yang mewangi bagaikan wanita yang memiliki kharisma yang mempesona siapa saja yang mengenalnya.
Wanita itu ibarat sekuntum bunga, yang suatu saat akan layu. Cantik indahnya wanita hanya sementara dalam pandangan mata. Saat wanita telah berusia tua, maka dapatlah dipastikan bahwa kecantikan lahiriahnya akan hilang, memudar karena diluruh waktu.
Sedangkan yang kekal menjadi pujaan manusia hanyalah wanita yang mulia akhlaqnya. Karena akhlaq bagaikan bunga diri yang tak akan layu dimakan usia, tak pudar dimakan zaman. Ternyata memang akhlaqlah yang memberikan seorang wanita kecantikan yang abadi. Kecantikan yang terpancar dari cahaya hati orang-orang pilihan-Nya. Berikut ini adalah dua buah cerita yang akan memberi kita pemahaman yang tepat tentang makna kacantikan wanita :
Dikisahkan bahwa ada seorang wanita muda di sebuah desa di sebuah pelosok daerah. Wanita muda tersebut memiliki kecantikan dan keanggunan bagaikan sekuntum bunga, sehingga banyak suara yang sepakat bahwa dialah bunga desa di desa tersebut.
Dirinya layaknya permata terindah yang diinginkan oleh setiap makhluk berjakun, entah muda maupun tua di desa tersebut. Kehadirannya menjadi pusat perhatian dan kepergiannya menjadi kekeluan yang terdesak dalam dada para pria-pria, seolah mereka hendak berteriak, “Jangan dulu pergi, di sini kering tanpa adanya dirimu”.
Apapun yang dilakukannya selalu indah terlihat, sehingga entah sadar atau tidak, entah sengaja atau tidak olehnya. Bahkan jika dibandingkan dengan gadis manapun, tetap saja mereka para pria itu mengakui kecantikan dan keanggunan gadis tersebut sebagai yang nomor satu. Dan selama mereka terus bergelut dengan khayal yang aneh-aneh, gadis itu tetap tak bergeming dan tak tergoda oleh setiap tawaran, sebab hatinya memang belum tersentuh. Gadis itu belum bertemu dengan sosok yang mampu menggetarkan hatinya, sehingga akhirnya hadiah senyumlah yang bisa dinikmati makhluk-makhluk berjakun di desa itu.
Sampai suatu hari, bunga desa ini pun bertemu dengan seorang pria dianggapnya istimewa. Yang dengan hanya melihatnya saja, telah mampu menggetarkan dinding hatinya, mampu menggetarkan sukmanya yang masih muda itu. Sehingga pria itu banyak disanjung oleh teman-teman sepergaulannya, “kamu sekarang menjadi laki-laki yang paling beruntung di dunia, teman!”. Namun pria itu hanya menyunggingkan senyuman bodoh.
Selang berapa lama waktu berjalan, kabarpun datang. Bahwa setan telah ikut campur dalam jalinan kasih itu. Sehingga sesuatu yang seharusnya terjadi pada malam pertama setelah hubungan dinyatakan sah terikat, telah terjadi. Dan telah menghasilkan seorang makhluk mungil calon penghuni dunia dari hubungan yang tidak sah, di balik dinding rahim si gadis. Sehingga kecewalah makhluk-makhluk berjakun lainnya di desa itu, karena bunga yang dulunya mekar dan indah. Gadis yang menjadi pujaan setiap hati di antara mereka itu telah layu tersiram air kehinaan dan kebodohan.
Menyesal lah diri mereka berdua dan juga orang-orang yang pernah mengenal mereka, sebab mereka telah terjatuh dalam kebebasan yang tanpa batas. Kebebasan yang akhirnya memenjarakan mereka dalam kehinaan perilaku yang buruk.
Menangislah wanita itu dalam tidur dan sadarnya. Menjeritlah hatinya dalam diam dan sembabnya mata. Batinnya yang liar meneropong laku salah dirinya yang telah terjadi, sehingga dengan sedikit berbisik dengan linangan air mata penuh kegalauan dalam do’a malam harinya ia berkata, “Ya Tuhan, Aku menyesal !”.
Pada saat yang sama, ada seorang wanita alim yang cantik jelita di desa seberang, yang juga sedang terajut sejarah hidupnya oleh orang sekitar. Dia berkerudung dalam pakaiannya dan berakhlak dalam setiap tindakannya. Tidak diliarkan pandang dan bicaranya layaknya wanita kebanyakan. Dia bagaikan sekuntum bunga yang indah dan juga terpelihara dengan baik.
Kebahagiaan begitu terpancar dari perilakunya yang tak bebas itu. Heran memang, tapi begitulah adanya dia. Sehingga banyak sudah para bujang, baik yang segar maupun yang lapuk hendak meminang dirinya. Menawarkan yang tak tertawarkan, dan hendak menyerahkan segala segala yang diempunya hanya demi mendapatkannya. Dan selama itu pula, belum ada satupun yang mampu menaklukkan ayah gadis jelita ini.
Tidak ada satupun pria yang mampu mengeluarkannya dari pintu rumahnya, tanpa surat nikah. Begitulah prinsip sang ayah, mendukung karena tahu keyakinan sang anak.
Hingga suatu saat, datanglah seorang bujang sederhana namun tampak bercahaya dari wajahnya. Terpancar betul keagungan akhlak dalam setiap bicara dan lakunya. Dengan kata-katanya ia yang dapat memenuhi rongga ketidakpercayaan menjadi penuh kepercayaan, sebab terasa betul kejujurannya. Bujang sederhana itu datang meminang gadis jelita yang tampak cantik batinnya ini. Dan hendak mengajaknya menjadi ratu dalam kerajaan hidupnya.
Dan bagai gayung bersambut, bagaikan seorang anak yang bertemu ibunya, bagaikan mutiara yang bertemu mahkotanya, tampak elok dan serasi betul kedua pasangan ini. Sehingga keindahan keluarga mereka, menjadi kebahagiaan dan ketentraman sebab kekayaan mereka adalah kekayaan hati. Indahnya.


hello, bolehkah saya ambil gambar bunga anda itu utk di mskkan ke dlm blog saya. amat indah dan sejuk di pandangan mata.
Boleh Sofi… (^.^)
aku juga yaaaa…mauuu ^^ bagus lhoo tulisannya
iya Mba Aini, silahkan saja.