The Special Message

25 11 2009

Beberapa waktu yang lalu HP ku mem-pop up pesan dari nomor 0819 104XXXXX, berikut adalah isi pesannya :

Dear God, d lady reading this sms is beautiful, classy and strong. Help her live her life to the fullest, promote her when she needs You the most.. and let her know when she walk with You she will always be safe. LOVE U, sis.. :-*

Ya ampun…   :D





Menjelajah Isi Hati Seorang R.A. Kartini

25 11 2009

Belajar Sejarah VS Menjelajah Isi Hati ?

Question ? Apakah isi hati seorang wanita bisa dijelajahi ? I mean…apakah isi hati seorang R.A. Kartini bisa dijelajahi ? Bukankah isi hati seorang manusia sulit untuk diketahui, apalagi R.A. Kartini kini sudah menjadi sejarah (baca : sudah lama meninggal dunia).

Penulis menjawab : Ya tentu saja bisa. Mengapa demikian ? Karena sebagian besar hal yang melatarbelakangi tindakan seorang wanita adalah perasaannya, wanita lebih dikendalikan oleh perasaan dibandingkan dengan logika. Wanita berbeda dengan pria. Perasaan yang dimiliki wanita akan melatarbelakangi sebagian besar tindakan yang dilakukannya. Oleh karena itu jika kita ingin mempelajari tindakan seorang wanita maka itu berarti kita harus menjelajahi isi hatinya agar kita tahu apa yang menjadi latar belakang tindakannya saat itu.

Sedangkan sebagai seorang penerus bangsa yang mesti mempelajari sejarah, maka kita harus mempelajari semua hal yang terkait dengan sejarah tersebut. Bukan hanya sebagian melainkan menyeluruh. Dengan mempelajari sejarah, kita dapat menarik sebuah hikmah yang sangat berharga tanpa harus mengalaminya. Karena hikmah yang didapatkan dari pengalaman diri sendiri harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.

Sejarah dipelajari dengan cara menganalisa latar belakang keadaan saat itu, kondisi lingkungan si pelaku sejarah, karakter si pelaku sejarah, dan hal-hal lain yang sejenisnya. Bukan dengan cara menghapal, melainkan memahami. Begitulah seharusnya.

Dan untuk mempelajari sejarah tentang R.A. Kartini : memahami ide yang disampaikan beliau (emansipasi) dan mengenal sosok beliau lebih dalam maka kita harus menjelajahi isi hati beliau.

Mengenal Lebih Dalam Sosok R.A. Kartini

R.A. Kartini atau Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Putri dari Raden Mas Sosroningrat, seorang bupati Jepara. Sedangkan ibunya, M.A. Ngasirah adalah istri pertama dari R.M. Sosroningrat, tetapi bukan istri utama. Dan kala itu di Jawa, poligami adalah suatu hal yang biasa.

Keluarga Kartini merupakan keluarga ningrat Jawa. Ayahnya pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Sedangkan ibunya adalah putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Oleh karena peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan sedangkan M.A. Ngasirah bukanlah dari kalangan bangsawan, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam) yang merupakan keturunan langsung dari Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, yaitu R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.

Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan seorang bupati Rembang, yaitu K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Door Duistenir Tot Lich. Habis Gelap Terbitlah Terang !

Kartini adalah gadis yang cerdas, suka merenung dan berdiskusi. Dalam masa pingitannya setelah beliau berusia 12 tahun, beliau sudah bisa berbahasa Belanda dan berkorespondensi dengan rekan-rekannya yang berasal dari Belanda. Di dalam surat-surat tersebutlah beliau mencurahkan pemikiran dan gagasannya mengenai wanita Indonesia, termasuk gagasannya mengenai emansipasi. Jadi beliau tidak pernah menulis sebuah buku, pemikiran beliau diungkapkan melalui surat-surat korespondensi beliau.

Habis Gelap Terbitlah Terang sesungguhnya adalah sebuah ungkapan indah yang pernah diungkapkan beliau dalam salah satu surat korespondensinya. Beliau yang selalu optimis meyakini bahwa meskipun kita berada dalam kegelapan harapan, kedatangan cahaya harus selalu kita yakini. Kita harus terus berjuang untuk hidup yang lebih baik dan tak henti menengadah tangan memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa. Ungkapan ini terinspirasi dari ungkapan “Dari Gelap Menuju Cahaya” atau dalam bahasa Al-qurannya “Min adz Dzulumaati Ila an Nuur”.

Surat korespondensi beliau yang berjumlah 87 surat itu kemudian dikumpulkan dan diterbitkan oleh salah satu sahabat pena beliau, J.H. Abendanon yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan di Hindia Belanda. Buku itu kemudian diberi judul Door Duisternis Tot Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang dan diterbitkan pada tahun 1911. Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini ini juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Dalam bahasa Melayu, surat-surat ini diterjemahkan oleh Empat Saudara yang salah satunya adalah Armijn Pane. Surat-surat ini kemudian diterbitkan sebagai buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Balai Pustaka.

Menjelajah  Isi Hati Seorang R.A. Kartini

Selayaknya seorang wanita yang berjiwa keibuan, Kartini sangat menjunjung tinggi kodratnya sebagai wanita. Beliau bahkan tidak menentang perjodohannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat padahal beliau saat itu begitu ingin mengenyam pendidikan tinggi, hak yang diberikan penuh hanya kepada kaum laki-laki. ”Seorang perempuan yang mengorbankan diri untuk orang lain, dengan rasa cinta yang ada di dalam hatinya, dengan segala bakti yang dapat diamalkannya, itulah perempuan yang patut disebut sebagai ibu dalam arti yang sebenarnya”. Ungkapnya dalam sebuah surat kepada yang ditujukan kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri.

Meskipun semasa hidupnya Kartini selalu mengenyam kepahitan hidup, namun beliau tidak menyerah. Beliau selalu mencari sisi positif dari setiap kepahitan yang beliau rasakan. Sungguh beliau adalah sosok wanita yang penyabar. ”Alangkah senangnya, bahagia rasa hati untuk mencari yang elok, yang baik untuk dan dalam segala hal. Cahaya Allah SWT ada dalam tiap-tiap orang. Dalam apa saja, bahkan juga dalam sesuatu yang tampaknya buruk. Kebenaran wajib meresap dalam hati banyak orang dan orang banyak wajib memandangnya sebagai suatu kewajiban. Kewajiban yang membuat hidup menjadi indah, baik bagi orang lain, maupun bagi diri sendiri.”

Kartini adalah sosok wanita yang tangguh, yang selalu meyakini bahwa habis gelap terbitlah terang. “Awan boleh saja menjadikan bumi ini gelap gulita, tapi awan tidak pernah meniadakan matahari, suatu saat awan-awan itu akan menyingkir dan bumi pun terasa lebih terang oleh cahaya matahari.”

Kartini berani menentang adat Jawa yang dirasanya sangat Feodal. Beliau juga pernah menentang Poligami. Tapi setelah mengenal Islam ia menerima sukarela. “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal indah dalam masyarakat ibu terdapat hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (surat Kartini kepada Ny. E. Abandon, 27 Oktober 1902)

Kartini adalah sosok wanita yang menyadari bahwa dirinya harus memegang ajaran agamanya. Dan beliau merasa bahwa keindahan hanya akan terjadi tatkala manusia mau mengikuti jalan yang telah dibentangkan oleh Allah SWT dan sungguh-sungguh menghayatinya. Pada tanggal 21 Juli 1902 kepada Nyonya N Van Kol, beliau mengungkapkan, ”Aduhai, seandainya agama itu dipahami dan dipatuhi, maka terwujudlah maksud yang murni bagi umat manusia, ialah berkah.”

Kartini adalah sosok wanita yang selalu haus akan ilmu, suka bertafakur alam. ”Tetapi di langit tiada awan yang selamanya tetap, demikian pula tiada sinar matahari yang memancar terus menerus. Dari malam yang gelap gulita, kerap kali lahirlah pagi yang teramat indah. Kehidupan manusia adalah pencerminan kehidupan alam yang paling baik. Yang harus kita panjatkan tiap-tiap hari kepada Allah SWT ialah doa semoga kita dikaruniai kekuatan!”

Kontroversi Sosok R.A. Kartini

Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut almarhum Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.

Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.

Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.

Dikutip dari beberapa sumber berbeda.





Ketika Hewan-Hewan Berdiskusi

25 11 2009

Di suatu hutan, hiduplah 5 ekor binatang yang saling bersahabat. Mereka adalah Anjing, Babi, Ular, Tikus dan Monyet. Mereka hidup rukun, saling menjaga dan saling menyayangi. Hingga pada suatu saat, entah siapa yang memulai, mereka ingin ada seorang pemimpin dalam kelompok mereka. Lalu mereka saling mencalonkan diri sebagai pemimpin.


“Akulah yang harus jadi pemimpin. Lariku tercepat, pendengaranku paling tajam dan suaraku paling keras. Tentulah hanya aku yang bisa melindungi kalian.” kata si Anjing.

“Apa? Kau? Kau yang selalu menjulurkan lidah untuk memperoleh kepuasan nafsumu. Dan kau selalu menggoyangkan ekormu saat senang. Apa hebatnya dirimu?” kata si Babi. “Akulah yang berhak. Badanku yang paling besar di antara kalian. Akulah yang mampu melindungi kalian”

“Kau? Kau yang selalu makan kotoran? Bahkan kotoranmu sendiri. Tak sadarkah hinanya dirimu memakan yang haram. Kini merasa yang paling pantas menjadi pemimpin?” kata si Ular. “Akulah yang pantas menjadi pemimpin. Aku mampu membunuh hanya dengan sekali gigit. Tentulah hanya aku yang bisa melindungi kalian dari ancaman.”

“Kau? Kau yg berjalan dengan perutmu? Lihat dirimu. Kepalamu, perutmu, dan kelaminmu berada sejajar. Kaulah yang paling hina diantara kami. Karena kau hanya akan berpikir demi kepuasan nafsumu.” kata si Tikus. “Akulah yang berhak menjadi pemimpin. Meski aku terkecil aku paling lincah dan gesit di antara kalian. Aku mampu bersembunyi dan mengendap-ngendap tanpa ketahuan.”

“Kau? Kau yang pengecut dan selalu mencuri? Kau yang suka menggerogoti apapun yang kau temukan? Dan kini kau merasa pantas menjadi pemimpin? Tak tahu diri kau ini.” kata si Monyet.”Akulah yang paling pantas. Aku mampu memanjat pohon tertinggi dengan sekejap. Justru akulah yang akan bisa melindungi kalian, karena aku akan mampu melihat ancaman dari jauh.”

“Apa? Kau? Kau yang memiliki tangan yang lebih panjang dari kakimu? Tak sadarkah bahwa tanganmu juga suka mencuri. Kaulah yang paling serakah diantara kami. Kau selalu makan dengan kedua tanganmu dan mengincar makanan lain meski belum habis makanan di tanganmu. Panjangnya tanganmu selalu membuatmu ingin merebut apapun yang kau lihat. Dan kini kau merasa berhak menjadi pemimpin? ” kata si Anjing.

Akhirnya karena saling bersikeras dan saling menghina satu sama lain, mereka tak jadi memilih pemimpin. Bahkan mereka memutuskan saling berpisah karena masing-masing merasa terhina.

Nah dari sifat 5 hewan tersebut, tak sedikit manusia di jaman sekarang yang memiliki sifat salah satu dari mereka. Atau mungkin tanpa disadari kita juga memilikinya.. Na’udzubillah…








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.