First of all, artikel blog ini ditujukan untuk anak-anakku yang belum kulahirkan (i’m just learning how to be a good parent in the future… ^.^V ) dan seluruh anak-anak Indonesia lainnya. Semoga kekhawatiran kita selaku orang tua pada perkembangan mereka, tidak justru membatasi ‘kehebatan’ mereka di masa yang akan datang…
Sudahkan Anda Dan Keluarga Berinternet Sehat Selama Ini ?
Internet, satu kata sejuta makna. Bagaimana tidak ? Begitu satu kata ini disebut pada sejuta umat (misalnya) pasti interpretasinya berbeda-beda. Ada yang menginterpretasikannya dengan uang sebab internet merupakan link baginya dalam mencari nafkah, ada pula yang mengintepretasikannya dengan perpustakaan sebab ia sering mencari berbagai dokumen guna menambah pengetahuan. Ada yang sering menggunakan internet untuk ber-jejaring sosial-ria dan ada juga yang menggunakan internet untuk ber-shopping-ria. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan adanya internet, namun satu pertanyaan yang patut dipertanyakan : apakah Anda dan keluarga telah berinternet sehat selama ini ?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita telaah istilah internet itu sendiri. Internet atau interconnected-networking, merupakan sistem komputer umum yang terhubung secara global dan menggunakan protokol TCP/IP. Internet merupakan salah satu penemuan terhebat abad ke-21 ini. Jumlah pengguna internet saat ini semakin besar dan semakin berkembang, kini telah memunculkan budaya internet. Internet mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, informasi, dan pandangan dunia. Dengan berpandukan search engine seperti Google, pengguna internet di seluruh dunia dapat mengakses berbagai macam informasi.
Selain mencari bermacam informasi, di internet kita juga bisa bersosialisasi seperti halnya di dalam dunia nyata. Bahkan di internet juga dikenal etika (Netiquette) sebagai acuan dalam menjaga perilaku dan kehormatan dalam pergaulan komunitas dunia maya. Peraturan yang terkait dengan penggunaan internet di Indonesia yaitu UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE) yang mengatur tata tertib di Internet, meskipun pada kenyataannya realisasi dari UU-ITE (UU No.11 tahun 2008) terhadap pemakaian internet di Indonesia masih sedikit. Jadi bukanlah hal yang baru dijumpai bahwa sampai saat ini masih terdapat banyak konten internet yang memuat sesuatu yang melanggar norma-norma agama serta kesusilaan atau memaparkan informasi yang bisa menimbulkan keresahan, gangguan sosial budaya, atau konflik dalam masyarakat.
Lalu, apakah yang dimaksud dengan internet sehat ? Pada awalnya Internet Sehat merupakan nama program yang digagas oleh Yayasan Center for ICT Studies (ICT Watch) yang bertujuan mengajak masyarakat luas agar menjadi lebih paham dan peduli dengan pentingnya berinternet secara sehat. Kemudian berkembang juga program Internet Sehat dan Aman (INSAN) yang digagas oleh pemerintah melalui Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia yang bertujuan mencegah konten internet negatif. Kedua program ini serupa yaitu mengkampanyekan masyarakat untuk berinternet secara sehat. Berinternet secara sehat yang dimaksud adalah pemanfaatan media internet untuk hanya mengakses informasi yang positif, mendidik, dan bermanfaat saja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan persuasif maupun proaktif dalam berinternet secara sehat baik melalui pengawasan oleh pihak keluarga, pendidikan oleh pihak guru/pendidik, maupun dengan menggunakan alat bantu perangkat lunak pengaman konten negatif.
Ayo Selamatkan Mentalitas Anak Kita !
Jika dibandingkan dengan negara-negara penganut paham liberal, seperti Inggris dan Amerika Serikat, Indonesia yang merupakan negara demokratis ternyata jauh lebih liberal. Di Inggris dan Amerika Serikat jika terdapat konten negatif terkait pornografi akan langsung diblokir, tetapi tidak demikian halnya di Indonesia. Bahkan penyedia layanan broadband di Indonesia mengaku kesulitan untuk membatasi akses terhadap konten negatif karena mereka merasa tidak bisa serta merta membatasi pengguna untuk mengakses situs atau konten tertentu berdasarkan anggapan semata. Hmm, sangat meresahkan bukan ? Lalu apa jadinya bila anak kita yang mengakses konten negatif tersebut ? Dan bagaimana caranya untuk memastikan bahwa anak kita hanya mengakses konten internet yang positif ?
Dan tahukah Anda bahwa anak yang pernah atau bahkan sering mengakses situs porno, maka mentalitasnya dapat menjadi rusak. Semakin mereka tahu hal-hal yang tak seharusnya mereka tahu, maka rasa ingin tahu mereka akan semakin besar dan hal tersebut menyebabkan kecanduan internet. Anak yang kecanduan internet dapat menjadi malas melakukan aktivitas lainnya dan kecerdasan interpersonalnya dapat berkurang karena jarang berinteraksi dengan masyarakat. Begitulah dampak negatif pengaksesan konten pornografi bagi anak. Lalu bagaimana dengan konten negatif lainnya, seperti kekerasan (sadisme), perjudian, dan rasialisme ? Sangat meresahkan, bukan ?
Upps, tapi Anda jangan putus asa dulu karena di mana ada niat, maka di situ pasti ada jalan. Begitu pula jika Anda ingin anak Anda berinternet sehat, maka pasti ada jalan keluarnya. Internet memang menawarkan banyak potensi untuk pendidikan anak, tetapi juga menyajikan bahaya seperti halnya predator online. Pengaruh negatif penggunaan internet dapat diantisipasi dengan nilai-nilai yang ditanamkan pada anak dan juga pemberian arahan pada anak terhadap rasa ingin tahunya. Rasa ingin tahu pada anak bisa berdampak negatif maupun positif, oleh karena itu diperlukan batasan bagi anak dengan pengertian yang jelas.
Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak mengenai penggunaan internet sangatlah penting. Saat anak berinternet pun, orang tua sebaiknya menunjukkan rasa ketertarikaannya terhadap apa yang dilakukan anak. Dengan demikian anak tidak akan merasa sungkan untuk berdiskusi apapun dengan orang tua, termasuk hal-hal yang sangat ingin diketahuinya.
Namun demikian, tak selamanya orang tua mampu mengawasi penggunaan internet oleh anak-anak. Oleh karena itu, diperlukan semacam alat bantu perangkat lunak penangkal konten negatif internet atau filter. Perangkat lunak ini dapat membantu Anda untuk mencegah anak dari terpapar konten negatif internet, seperti konten pornografi melalui web berkategori dewasa, spam e-mail, maupun mailing-list, ataupun konten kekerasan (sadisme), perjudian, dan rasialisme yang tentunya membahayakan mentalitas anak. Yang harus diingat adalah perangkat lunak tidak akan pernah dapat menggantikan peran orang tua, guru, maupun komunitas dalam memberikan pengawasan dan pengamanan pada anak selama berinternet. Perangkat lunak ini hanyalah alat bantu dan tidak bisa 100% menghalau konten negatif internet.
Perangkat lunak ini dapat berupa : perangkat lunak parental, browser khusus anak, anti-spyware, anti-virus, dan firewall. Perangkat lunak yang utama terkait penggunaan internet oleh anak, yaitu perangkat lunak parental dan browser khusus anak. Perangkat lunak parental berfungsi sebagai : alat filter guna mencegah anak sengaja atau tidak sengaja membuka atau melihat berbagai gambar yang tak layak (pornografi, sadisme, dan sebagainya) yang terdapat di situs internet; alat monitor guna memudahkan orang tua memonitor aktivitas anak selama online; dan alat penjadwalan guna membatasi jumlah atau durasi waktu anak dalam menggunakan internet. Salah satu contoh perangkat lunak parental adalah K9 Web Protection. Sedangkat perangkat lunak browser khusus anak berfungsi sebagai alat filter yang dapat menyaring semaksimal mungkin berbagai situs, Gambar, maupun teks yang tak layak untuk dipaparkan pada anak. Salah satu contoh perangkat lunak browser anak adalah Kid Rocket.
Tak Selamanya Internet Berdampak Negatif bagi Anak
Internet juga bisa memberikan dampak positif bagi anak. Tidak percayakah ? Salah satu contoh sederhana dapat dilihat dari terampilnya anak menggunakan teknologi, komputer, dan internet. Kalau dari kecil saja sudah up-to-date dengan teknologi, maka bukan hal yang mustahil bahwa kelak mereka bisa menjadi seseorang yang mengembangkan teknologi untuk kehidupan manusia.
Selain itu, dengan internet anak akan lebih cepat mengetahui berbagai informasi dan ilmu pengetahuan. Anak dapat mencari tahu segala informasi dan ilmu pengetahuan secara mandiri, tanpa harus membuka buku karena internet merupakan perpustakaan terbesar di dunia yang menyimpan berbagai informasi dan ilmu pengetahuan. Internet akan membuat anak memiliki wawasan yang lebih luas.
Internet Sehat untuk Anak Hebat Kita
Bagi Anda orang tua jangan khawatir karena dengan pemahaman Anda yang cukup tentang internet serta kedewasaan Anda untuk memilih mana yang baik dan yang buruk untuk anak Anda, maka Anda dapat memaksimalkan dampak positif penggunaan internet sekaligus meminimalkan dampak negatifnya. Janganlah melihat sisi negatifnya saja dan melarang dengan segala pembenaran Anda sebagai orang tua, cobalah mengerti dari sudut pandang mereka. Tugas Anda adalah mendampingi mereka untuk kemajuan mereka di masa yang akan datang.






Dengan internet kita berbagi informasi yang bermanfaat. lanjutkan…semoga sukses.
Amin, terima kasih…
ayo berinternet sehat demi keluarga yang sehat juga
Membangun Peradaban Indonesia dengan Internet Sehat
http://cucuhermaone.blogdetik.com/umum/membangun-peradaban-indonesia-dengan-internet-sehat/
Setuju… karena keluarga yang sehat akan membesarkan anak-anak yang hebat, masa depan bangsa Indonesia. Mari kampanyekan internet sehat untuk anak-anak kita kelak…
Terima kasih telah bertukar link…
kampanye sehat harus dimulai saat ini juga, dari masing2 pribadi, dari hal termudah,
saya sangat senang dg perkembangan penggunaan internet anak-anak, selain sebagai sarana bermain /hiburan juga jadi alternatif tempat bertanya bila ada sesuatu yang ingin diketahui tanpa harus mencari guru/orang yang ahli tentang sesuatu. Pelajaran etika berinternet mungkin perlu dirumuskan dan diajarkan juga sejak SD.
@ Her Budianto : Setuju Pak, internet memang bagaikan perpustakaan terbesar di dunia dan perlu disosialisasikan secara formal ttg bagaimana cara menggunakannya dengan baik pada anak-anak sejak di SD.
Semoga pihak pendidik memahami pentingnya hal ini, amin.
@Muchlis : Setuju Pak. Kayak rumus 3M-nya AA Gym nih, hehe
saya sangat senang melihat para guru sudah memanfaatkan internet sebagai salah satu alat untuk proses belajar mengajar dengan memberikan tugas surfing internet kemudian merangkum menjadi bahan pelajaran oleh anak didik.
Hanya saja mungkin perlu diajarkan sopan santun/etika mengutip meskipun dari internet ada baiknya dicantumkan alamat websitenya pada hasil rangkuman ataupun kutipannya.
Wah, keren ya pendidikan sekarang, Pak. Alangkah lebih baik lagi kalau step by step dalam melakukan surfing juga dicontohkan ke para murid. Demikian juga dengan penggunaan browser khusus anak, sebaiknya para guru memberikan atau merekomendasikan browser khusus anak untuk dipakai ketika surfing.
Setuju Pak, bagaikan me-refer ke buku maka me-refer ke website tertentu juga harus dicantumkan dalam Daftar Pustaka/Referensi artikel.makalah yang dibuat para murid. Hal seperti ini sudah jelas dalam pembuatan skripsi, tesis, berarti para guru tinggal mensosialisasikannya saja.
Semoga hal ini dapat menjadi perhatian para pendidik, amin.
Setuju sama Jeng Resti. O iya, saya nilai banyak orang menyempitkan istilah Internet dengan kegiatan di luar merambah Internet alias browsing. Mungkin Jeng Resti mau membahas kegiatan ber-Internet sehat, tapi bukan browsing saja.
Ini contoh kami sekeluarga: Video Call dengan Skype kalau saya lagi lembur sebagai pengganti telepon 3G, mengunduh koran online melalui Feed/RSS Reader, email-emailan dengan keluarga lain, dan lain sebagainya. Internet model begini lebih terkontrol dan lebih banyak gunanya lho…
Iya Pak, setuju. Tapi mengapa baru demikian ? Karena ternyata menurut survei banyak keluarga yang ‘gaptek’ dalam menanggapi teknologi internet ini (saya sebut sebagai tipe keluarga generasi pertama). Jadi mengantisipasi dampak negatif penggunaan internet skala kecil yang baru sekedar memanfaatkan komputer desktop untuk browsing saja belum bisa. Oleh karena itu, hal seperti inilah yang masih banyak dikampanyekan yaitu penggunaan internet secara sehat untuk tipe keluarga generasi pertama.
Kalau untuk tipe keluarga generasi kedua yang tentunya telah dapat memaksimalkan penggunaan internet untuk meningkatkan taraf kehidupannya, maka sosialisasi penggunaan internetnya akan berbeda yaitu lebih mengarah ke bagaimana cara memaksimalkan penggunaan internet. Untuk selanjutnya, (insya Allah) akan saya sosialisasikan melalui artikel lanjutan bertajuk ‘Internet Sehat Bikin Keluarga Jadi Hebat’. Nice info, Pak tentang tipe keluarga generasi kedua tersebut. Semoga pak Arman dan keluarga tetap jaya, hehe…
Untuk memulai internet sehat terhadap anak-anak, bisa dimulai dari memberi pengertian kepada mereka akan dampak dari penggunaan internet “sakit” (negasi dari istilah internet sehat
) dari berbagai perspektif apakah dari prestasi belajarnya, kehidupan sosialnya, dan lain sebagainya.
Ada satu hal yang ingin saya tanyakan, ketika umur berapa seharusnya seorang anak sudah diperkenalkan dengan internet ??? Mengingat seorang anak memiliki rasa keingitahuan yang besar dan tidak menutup kemungkinan ketika sudah mengenal internet dapat mengakses situs-situs pornografi.
Terima kasih
Wuih, pertanyaan yang sulit nih, hehe… (@.@)?
Karena terus terang saya belum pernah praktek langsung, jadi saya jawab berdasar teori dulu saja ya.
Memperkenalkan internet ada tahapannya berdasarkan usia anak :
* Usia 2-4 tahun. Dalam usia balita, anak yang mulai berinteraksi dengan komputer harus didampingi dengan orang tua. Orang tua diharapkan dapat memberi pengajaran dini mengenai hal-hal yang belum diketahui sang balita, termasuk apa itu internet.
* Usia 5-7 tahun. Anak mulai ingin melakukan eksplorasi, maka dibutuhkan peran orang tua dalam mendampingi anak ketka berinternet. Untuk mempermudah, orang tua dapat menggunakan browser khusus anak.
* Usia 8-10 tahun. Anak mulai mencari informasi dan kehidupan sosial di luar keluarga mereka. Di sini faktor pertemanan dan kelompok bermain memegang peranan penting dan anak mulai meminta kebebasan lebih banyak dari orang tua. Oleh karena itu, anak memang harus didorong untuk melakukan eksplorasi sendiri. Dalam hal penggunaan internet, orang tua juga harus mempertimbangkan penggunaan software filtering untuk memantau apa yang dikerjakan anak, situs apa saja yang dikunjungi anak, dan durasi anak dalam menggunakan internet.
* Usia 11-12 tahun. Pada masa pra-remaja ini, anak membutuhkan lebih banyak kebebasan dan pengalaman. Inilah saat yang tepat untuk memperkenalkan fungsi internet pada anak : membantu tugas sekolah dan juga mencari hal-hal baru yang berkaitan dengan hobi mereka. Tugas orang tua adalah mengarahkan kebebasan mereka.
* Usia 13-14 tahun. Anak mulai aktif menjalankan kehidupan sosialnya, dengan jejaring sosial, blogging maupun chatting. Anak harus ditekankan untuk tidak memberikan data pribadi apapun, bertukar photo, maupun melakukan pertemuan face-to-face dengan seseorang yang baru dikenal di internet tanpa sepengetahuan orang tua. Anak harus diberi pengertian bahwa seseorang di internet bisa jadi tidaklah seperti yang digambarkan atau dibayangkan. Selain itu, orang tua harus menekankan nilai dan norma keluarga serta meningkatkan kepercayaan dan keterbukaan antara orang tua dan anak.
* Usia 15-17 tahun. Remaja mulai matang secara fisik, emosi, dan inteletual. Mereka haus akan pengalaman yang terbebas dari orang tua, dan kerap melakukan hal-hal yang beresiko tinggi bagi dirinya baik secara online maupun offline. Oleh karena itu, diperlukan pengertian kepada remaja bahwa siapapun yang mereka kenal lewat internet belum tentu seperti apa yang mereka bayangkan dan bisa jauh berbeda dalam kehidupan sehari-harinya.
gambare ra nguati mba….
ckckck
http://kangrahmat.blogdetik.com/index.php/2010/11/15/sukes-berat-dengan-internet-sehat-tanpa-perlu-tirakat/comment-page-3/#comment-216
hehe, hasil sotosop Pak…
Ikutan corat coret ciar tambah sip ? ….
Siiip deh, hehe
salah satu cara filtering yaitu menggunakan DNS nawala, semoga semua ISP di Indonesia pake DNS nawala.
Wuih.. yang Nawala Project itu ya ?
Ternyata setting manual di Start > Settings > Control Panel > Network Connection > Pada koneksi yang sedang terhubung klik Properties > sorot pada Internet Protocol (TCP/IP) > klik Properties, lalu di tulisan ‘Use the following DNS server addresses’ isikan :
Preferred DNS server dengan mengetik: 180.131.144.144
Alternate DNS server dengan mengetik: 180.131.145.145
Klik OK
Terima kasih infonya Bang…
paling penting emang mengajarkan internet yang sehat pada anak2, sebelum kedahuluan diajari temen2nya internet yg gak sehat,,
sip, setuju bangets…
Internet sehat memang harus diawali niat, tapi klo penggunannya anak2, maka harus diimbangi dengan pengawasan yang sehat pula:
jangan lupa visit blogs saya ya, Mbak.
http://hackim.blogdetik.com/2010/12/03/internet-sehat-optimalisasi-percepatan-program-pendidikan-yang-hebat/
oke, makasih ya info artikelnya… (*.*)b
NIce posting
salam kenal dan selamat berjuang
ditunnggu dilapak saya
http://kangrahmat.blogdetik.com/index.php/2010/11/15/sukes-berat-dengan-internet-sehat-tanpa-perlu-tirakat/#comments
Terima kasih Pak… BTW saya sudah ke blognya koq, hehe… (^.^)?
nice post…
kunjungi ini ya..
FISIP Unand
thanks
Terima kasih Santi…
Sudah ke link, tapi notifikasinya : 404 File NotFound – Repository Andalas
hello I was fortunate to discover your website in bing
your topic is fine
I learn a lot in your topic really thank your very much
btw the theme of you blog is really fabulous
where can find it
Hi bet365, thanks for your comment, hehe… (^.^)?
And about the theme of this blog, i just use the template theme by WordPress, hehe… it’s because i still can’t find the way to use my own theme.
Salam kenal:
artikel bagus… izin copas gambar lucu.a
Salam Sukses, n happy blogging….
oh, bole-bole… suka sama keluarga mon-mon juga ya ? hehe